Sabtu, 01 Oktober 2016

Siapakah yang Mengkhianati Pancasila? PKI atau Soeharto?

Monumen Pancasila Sakti

Muncul pertanyaan dibenak saya, sebenarnya hari ini 1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila atau Hari Kesaktian Rezim Soeharto?

Kembali kepada kisah sehari sebelumnya, gerakan 30 september terjadi menurut cerita adalah PKI ingin menghapuskan ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Pernyataan ini tentu saja menurut saya adalah rekayasa soeharto untuk 
mengukuhkan dan memperkuat kekuasaannya di negeri ini. Skenario penyelamatan Pancasila hanya dijadikan alasan dan tameng oleh Soeharto. PKI hanya dijadikan kambing hitam agar oknum-oknum tamak bisa melegalkan seluruh tindakan kejinya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk menumpas lawan-lawan politiknya guna melanggengkan kekuasaannya belaka.

Janggal rasanya jika mengatakan PKI adalah sebuah partai radikal karena partai ini menjunjung tinggi faham semua manusia memiliki hak yang sama serta sama-rata sama-rasa. Lagipula PKI adalah partai yang sangat setia terhadap Soekarno, sehingga aneh jika secara tiba-tiba ingin melakukan kudeta. Tak lain dan tak bukan, Angkatan Besenjata lah yang menuduh dan memfitnah PKI sebagai dalangnya. Fitnah itu diantaranya becerita bahwa tujuh orang jenderal dibunuh secara perlahan-lahan dengan menggunakan silet disertai dengan penari wanita setengah telanjang. Namun setelah dilakukan otopsi, tidak ditemukan adanya bekas goresan silet ditubuh korban. 

PKI adalah partai besar, mungkinkah partai terbesar ke-3 melakukan kudeta bodoh seperti yang dilakukan pada 1965 tersebut. Disamping itu PKI adalah partai dengan beranggotakan masyarakat sipil tanpa militer. Apakah mungkin partai sipil seperti PKI melakukan kudeta tanpa mendapat dukungan dari militer.

Terbitlah surat keputusan dari Menpangad No. KEP.977/9/1996 tanggal 17 September 1966 yang menetapkan tgl 1 oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Selain itu peristiwa yang katanya sebuah pengkhianatan PKI dengan kudetanya dikukuhkan dalam sebuah simbol penuh propaganda. Simbol tersebut adalah dibangunnya monumen pancasila sakti di Lubang Buaya Jakarta Pusat.

Cerita bohongpun dibuat. Ia menamipulasi perbuatan kejinya tersebut seolah-olah adalah tindakan yang heroik karena telah menyelamatkan Pancasila sehingga tidak dihancurkan oleh faham komunis. Hingga pada akhirnya digulirkanlah idiom popular yang diberi nama “Kesaktian Pancasila”. Bukti dokumen, saksi hingga pelaku pun sengaja dilenyapkan agar tindakannya itu dianggap benar dan ia pun dianggap sebagai pahlawan. Walaupun katanya ingin menyelamatkan Pancasila, tapi dalam prakteknya ia lupa bahwa tindakannya tersebut tidak sesuai dengan sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Hingga sekarang peristiwa paling memilukan yang terjadi pada malam hari tanggal 30 September 1965 tersebut tetap menyisakan misteri yang tak kunjung terungkap.

Pertanyaan kedua, sebenarnya siapakah yang mengkhianati Pancasila? Apakah PKI atau orang yang berdalih ingin menyelamatkan Pancasila?

PKI memang telah merana karena dibenci oleh orang Indonesia. Orang awam pasti akan menganggap bahwa PKI patut dimusnahkan dari bumi Indonesia. Ironisnya Sejarah penuh kebohongan itu kemudian diharuskan sebagai menu yang wajib dikonsumsi oleh seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali dan tanpa boleh dibantah. Propaganda rezim Soeharto ini sukses diyakini sebagai suatu kebenaran.

Maka benarlah jika saya berasumsi bawa gerakan 30 September hanya dijadikan sebagai dalih untuk menegakkan kediktaktoran Suharto yang kemudian disusul dengan pengkhianatannya terhadap Soekarno dengan memanipulasi supersemar yang mengantarkannya menduduki kursi presiden melengserkan Soekarno.

Selama ini kita menganggap bahwa G30S PKI merupakan suatu kesatuan yang sama padahal berbeda. G30S dalah sebuah gerakan dan PKI merupakan kambing hitam dari gerakan tersebut. Sebenarnya bukan PKI sebagai partai yang terlibat dalam tragedi berdarah ini, namun hanya beberapa oknum dari PKI yang bisa diajak untuk menggali lubang kuburannya sendiri.


dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar